
1% Abad
Pertengahan April 2011.
Kesedihan tersirat di wajah kita masing-masing, seolah badai mengerikan telah memporak-porandakan segala bentuk mimpi kita tentang utopia kita bersama. Namun kita telah sepakat untuk tak saling menoleh ke belakang, bencana yang pastinya akan menusuk ketentraman kita. Kau dan aku.
Hari yang kita telah tunggu sekian lama ada didepan mata...
Selain masalah fisik, kita juga harus menyiapkan mental kita untuk memulai perjalanan ini. Satu jam diatas roda adalah satu momen yang telah kita tunggu dengan antusiasnya, dan sekarang semua itu didepan mata. Aku sungguh tak ingin mengacaukannya.
Masing-masing dari kita berharap inilah momentum untuk mencairkan kekakuan sikap diantara kita, satu rasa aneh dan abstrak yang aku akui memang muncul dalam beberapa bulan terakhir ini.
Berbagai badai datang menampar kesadaran kita, hingga mencapai klimaksnya. Aku harap sudah klimaks. Saat-saat terburuk dalam hidup kita yang sangat ingin kita buang jauh-jauh, kita lupakan hingga berharap amnesia.
Perlahan dan pasti kita daki ke puncak. Perjalanan ke timur kita lakukan dengan penuh harap, penyembuh bagi luka yang menganga, penghapus coretan kelam yang tak sengaja kita lukiskan di kanvas perjalanan kita.
Setahun yang lalu kita menantikan saat-saat ini, hampir setahun yang lalu. Seperti yang kita rasa dulu, kita juga akan menanti momen ini lagi setahun ke depan, dan tahun-tahun setelahnya. Kita tak pernah merencanakan kemana kita akan melangkah, kemana kita akan menuju. Tujuan hanyalah sebuah ekstensi. Esensi sebenarnya dari ini semua lebih dari sekedar itu, bukan sekedar tujuan dimana kita singgah atau bagaimana nanti kita menghabiskan hari. Esensi dari semua ini ialah bagaimana kita bersyukur atas jalan yang kita pijak sekarang, bersyukur atas apa yang telah terjadi sampai detik ini atau membuat satu resolusi baru yang akan menguatkan komitmen kita kedepan.
Hawa dingin mulai terasa menjalar rata ke dalam tubuhku, sama seperti kehangatan cintamu yang dulu mampu menjalar ke seluruh sendi tubuhku. Gerimis mulai melengkapi suasana hati dan situasi yang ada. Dan sampailah kita disini...
Hujan semakin menjadi, dan aku masih merasakan rasa abstrak dan aneh yang menyeruak diantara kita. Sekeras apapun usahaku untuk mencairkan suasana, tetap saja rasa itu ada.
Aku pikir dengan aku mandi air hangat akan membantuku. Dan memang itu membantuku untuk melemaskan otot yang rasanya sudah membeku kaku, namun hanya sesaat. Seperti doping bagi seorang atlit, seperti ganja yang dihisap junkies saat ingin mendapatkan kebahagiaan, seperti stimulan yang hanya bekerja sesaat. Ilusi. Tak benar-benar nyata.
Tubuhku justru tak berdaya karena gigil, namun entah kenapa aku juga bisa merasakan gigilnya hatimu kepadaku. Sikap itu tak lagi sama, pandangan itu telah berbeda. Justru sikapmu lebih dingin dari hawa yang kurasa.
Hujan belum juga reda. Kutinggalkanmu dalam lelap. Aku bertekad menyudahi semua ini, rasa aneh yang bagi aku tak ubahnya sebuah alien yang tak nampak. Bagaimananpun caranya, aku harus bisa mengalahkannya. Rasa cintaku kepadamu lebih besar dari rasa apapun, bahkan dari alien terkutuk ini sekalipun.
Saat ini aku belum mampu memberimu sesuatu, sesuatu yang cukup berarti bagimu. Sesuatu hal yang sungguh ingin aku lakukan. Aku terpuruk. Aku jatuh. Aku sungguh tak berdaya. Roda hidupku berada pada titik terendah yang pernah aku lalui. Satu perayaanmu telah kulewati, haruskanh aku melewatkannya lagi kali ini? Aku masih belum mampu memberimu apapun. semua rencana yang pernah aku rancang berbulan-bulan yang lalu sirna sudah, hancur seketika. Semuanya meleset.
Hujan. Dingin. Dan terpeleset jatuh. Sial. Kaki, tangan dan bahkan pantatku kesakitan.
Kembali kubuka pintu, melihatmu masih lelap. Kucoba menarikmu dari alam tidurmu...
Tiga kuntum bunga yang aku petik menjadi pemandangan mengharukan bagi matamu. Aku bisa melihat ada nyala kebahagiaan disana. Aku hanya mampu memberimu ini, bukan apa-apa. Aku sedih. Namun aku cukup bahagia melihatmu sedikit bahagia. Terima kasih telah kita lalui ini.
Wedang ronde ini suatu hal berharga yang datang disaat yang tepat. Hujan tetap saja menunjukkan eksistensinya, malampun seakan bekerja sama untuk membekukan tempat ini. Namun sedikit-demi sedikit hati ini mulai hangat, mulai lega. Alien tadi mungkin hampir binasa.
Melihatmu sibuk dengan pekerjaan sungguh sangat menyenangkan bagiku. Aku tak akan pernah keberatan jika kau habiskan waktu untuk itu. Justru aku akan sedikit lebih kesal jika kau mulai sibuk dan asyik mengetik pesan.
16 April 2011 00.00
Lilin itu menyala...ditemani sekuntum bunga mawar berwarna kuning. Warna kesukaanmu yang aku tahu...besar.
kau tak kuasa menahannya. Air matamu mulai menetes. Tangis tanpa isakmu. Tangis bahagiamu.
Sungguh inilah salah satu momen terbaik yang harus aku ingat. Mawar kuning, yang sejak tadi sore aku petik, yang aku harus mengucap serapah karena durinya sungguh tak dapat diajak bekerja sama. Mawar kuning, besar. Hanya ini yang mampu aku berikan. Maaf jika memalukan, maaf...
Alien yang sejak tadi menguasai space diantara kita harus mulai berpikir ulang untuk kembali menginvasi kita. Menyerah kalah...
Pagi yang dingin membangunkanku dari lelap, dan kulihat kau pun sudah terjaga. Kabar kau menerima pesan di pagi buta sungguh membuatku ingin tertidur pulas lagi, dalam jangka waktu yang lama.
Mentari sudah mulai mengambil alih jam kerja rembulan, saat yang tepat untuk menikmati pagi yang menyegarkan. Kabut mulai turun, melengkapi dingin pagi yang masih tersisa. Hamparan bukit dan gunung yang mengelilingi tempat ini, seperti tembok yang mengisolasiku dari hiruk pikuk kehidupan. Pelangi yang membentang sungguh merupakan kado terindah dari Tu(h)an bagi kami.
Sekali lagi tangismu kembali meledak, bukan tangis bahagia. Rasa kecewamu terihat benar olehku, dan aku pun bisa merasakannya. Itulah reflek pertamamu atas jalan yang kupilih, spontanitasmu. Namun aku yakin inilah jalan terbaik bagimu. Semuanya demi kesembuhanmu untuk melupakan lupa.
Kau adalah wanita suci bagiku, sampai kapanpun akan selalu begitu. Harga dirimu adalah sesuatu yang harus aku ikut jaga, kau berhak mendapatkan skenario yang lebih baik dari ini semua. Aku tahu pasti itu. Dan seperti biasanya, kau akan mengerti pada akhirnya.
Kelegaan sama-sama kita rasa, seakan-akan tenggorokan kita merasa plong setelah kita menelan permen mint.
Perjalanan pulang ini sungguh terasa berbeda. Lega dan bahagia. Mungkin aku sedikit kecewa kau menunda untuk meneruskan perjalananmu, mungkin waktumu habis untuk berkeluh kesah. Namun kecewaku menguap begitu saja, Cintaku sekarang kembali kuat!
Dan hari ini pada akhirnya akan berakhir. Terima kasih untuk hari ini. Terima kasih untuk segala hal dalam 12 bulan ini...Terima kasih karena CINTA.
16 April '11
Tawang Mangu. Tupiversary's #1 moment.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.
Kesedihan tersirat di wajah kita masing-masing, seolah badai mengerikan telah memporak-porandakan segala bentuk mimpi kita tentang utopia kita bersama. Namun kita telah sepakat untuk tak saling menoleh ke belakang, bencana yang pastinya akan menusuk ketentraman kita. Kau dan aku.
Hari yang kita telah tunggu sekian lama ada didepan mata...
Selain masalah fisik, kita juga harus menyiapkan mental kita untuk memulai perjalanan ini. Satu jam diatas roda adalah satu momen yang telah kita tunggu dengan antusiasnya, dan sekarang semua itu didepan mata. Aku sungguh tak ingin mengacaukannya.
Masing-masing dari kita berharap inilah momentum untuk mencairkan kekakuan sikap diantara kita, satu rasa aneh dan abstrak yang aku akui memang muncul dalam beberapa bulan terakhir ini.
Berbagai badai datang menampar kesadaran kita, hingga mencapai klimaksnya. Aku harap sudah klimaks. Saat-saat terburuk dalam hidup kita yang sangat ingin kita buang jauh-jauh, kita lupakan hingga berharap amnesia.
Perlahan dan pasti kita daki ke puncak. Perjalanan ke timur kita lakukan dengan penuh harap, penyembuh bagi luka yang menganga, penghapus coretan kelam yang tak sengaja kita lukiskan di kanvas perjalanan kita.
Setahun yang lalu kita menantikan saat-saat ini, hampir setahun yang lalu. Seperti yang kita rasa dulu, kita juga akan menanti momen ini lagi setahun ke depan, dan tahun-tahun setelahnya. Kita tak pernah merencanakan kemana kita akan melangkah, kemana kita akan menuju. Tujuan hanyalah sebuah ekstensi. Esensi sebenarnya dari ini semua lebih dari sekedar itu, bukan sekedar tujuan dimana kita singgah atau bagaimana nanti kita menghabiskan hari. Esensi dari semua ini ialah bagaimana kita bersyukur atas jalan yang kita pijak sekarang, bersyukur atas apa yang telah terjadi sampai detik ini atau membuat satu resolusi baru yang akan menguatkan komitmen kita kedepan.
Hawa dingin mulai terasa menjalar rata ke dalam tubuhku, sama seperti kehangatan cintamu yang dulu mampu menjalar ke seluruh sendi tubuhku. Gerimis mulai melengkapi suasana hati dan situasi yang ada. Dan sampailah kita disini...
Hujan semakin menjadi, dan aku masih merasakan rasa abstrak dan aneh yang menyeruak diantara kita. Sekeras apapun usahaku untuk mencairkan suasana, tetap saja rasa itu ada.
Aku pikir dengan aku mandi air hangat akan membantuku. Dan memang itu membantuku untuk melemaskan otot yang rasanya sudah membeku kaku, namun hanya sesaat. Seperti doping bagi seorang atlit, seperti ganja yang dihisap junkies saat ingin mendapatkan kebahagiaan, seperti stimulan yang hanya bekerja sesaat. Ilusi. Tak benar-benar nyata.
Tubuhku justru tak berdaya karena gigil, namun entah kenapa aku juga bisa merasakan gigilnya hatimu kepadaku. Sikap itu tak lagi sama, pandangan itu telah berbeda. Justru sikapmu lebih dingin dari hawa yang kurasa.
Hujan belum juga reda. Kutinggalkanmu dalam lelap. Aku bertekad menyudahi semua ini, rasa aneh yang bagi aku tak ubahnya sebuah alien yang tak nampak. Bagaimananpun caranya, aku harus bisa mengalahkannya. Rasa cintaku kepadamu lebih besar dari rasa apapun, bahkan dari alien terkutuk ini sekalipun.
Saat ini aku belum mampu memberimu sesuatu, sesuatu yang cukup berarti bagimu. Sesuatu hal yang sungguh ingin aku lakukan. Aku terpuruk. Aku jatuh. Aku sungguh tak berdaya. Roda hidupku berada pada titik terendah yang pernah aku lalui. Satu perayaanmu telah kulewati, haruskanh aku melewatkannya lagi kali ini? Aku masih belum mampu memberimu apapun. semua rencana yang pernah aku rancang berbulan-bulan yang lalu sirna sudah, hancur seketika. Semuanya meleset.
Hujan. Dingin. Dan terpeleset jatuh. Sial. Kaki, tangan dan bahkan pantatku kesakitan.
Kembali kubuka pintu, melihatmu masih lelap. Kucoba menarikmu dari alam tidurmu...
Tiga kuntum bunga yang aku petik menjadi pemandangan mengharukan bagi matamu. Aku bisa melihat ada nyala kebahagiaan disana. Aku hanya mampu memberimu ini, bukan apa-apa. Aku sedih. Namun aku cukup bahagia melihatmu sedikit bahagia. Terima kasih telah kita lalui ini.
Wedang ronde ini suatu hal berharga yang datang disaat yang tepat. Hujan tetap saja menunjukkan eksistensinya, malampun seakan bekerja sama untuk membekukan tempat ini. Namun sedikit-demi sedikit hati ini mulai hangat, mulai lega. Alien tadi mungkin hampir binasa.
Melihatmu sibuk dengan pekerjaan sungguh sangat menyenangkan bagiku. Aku tak akan pernah keberatan jika kau habiskan waktu untuk itu. Justru aku akan sedikit lebih kesal jika kau mulai sibuk dan asyik mengetik pesan.
16 April 2011 00.00
Lilin itu menyala...ditemani sekuntum bunga mawar berwarna kuning. Warna kesukaanmu yang aku tahu...besar.
Happy b'day to us...Happy b'day to us...
kau tak kuasa menahannya. Air matamu mulai menetes. Tangis tanpa isakmu. Tangis bahagiamu.
Sungguh inilah salah satu momen terbaik yang harus aku ingat. Mawar kuning, yang sejak tadi sore aku petik, yang aku harus mengucap serapah karena durinya sungguh tak dapat diajak bekerja sama. Mawar kuning, besar. Hanya ini yang mampu aku berikan. Maaf jika memalukan, maaf...
Alien yang sejak tadi menguasai space diantara kita harus mulai berpikir ulang untuk kembali menginvasi kita. Menyerah kalah...
Pagi yang dingin membangunkanku dari lelap, dan kulihat kau pun sudah terjaga. Kabar kau menerima pesan di pagi buta sungguh membuatku ingin tertidur pulas lagi, dalam jangka waktu yang lama.
Mentari sudah mulai mengambil alih jam kerja rembulan, saat yang tepat untuk menikmati pagi yang menyegarkan. Kabut mulai turun, melengkapi dingin pagi yang masih tersisa. Hamparan bukit dan gunung yang mengelilingi tempat ini, seperti tembok yang mengisolasiku dari hiruk pikuk kehidupan. Pelangi yang membentang sungguh merupakan kado terindah dari Tu(h)an bagi kami.
Sekali lagi tangismu kembali meledak, bukan tangis bahagia. Rasa kecewamu terihat benar olehku, dan aku pun bisa merasakannya. Itulah reflek pertamamu atas jalan yang kupilih, spontanitasmu. Namun aku yakin inilah jalan terbaik bagimu. Semuanya demi kesembuhanmu untuk melupakan lupa.
Kau adalah wanita suci bagiku, sampai kapanpun akan selalu begitu. Harga dirimu adalah sesuatu yang harus aku ikut jaga, kau berhak mendapatkan skenario yang lebih baik dari ini semua. Aku tahu pasti itu. Dan seperti biasanya, kau akan mengerti pada akhirnya.
Kelegaan sama-sama kita rasa, seakan-akan tenggorokan kita merasa plong setelah kita menelan permen mint.
Perjalanan pulang ini sungguh terasa berbeda. Lega dan bahagia. Mungkin aku sedikit kecewa kau menunda untuk meneruskan perjalananmu, mungkin waktumu habis untuk berkeluh kesah. Namun kecewaku menguap begitu saja, Cintaku sekarang kembali kuat!
Dan hari ini pada akhirnya akan berakhir. Terima kasih untuk hari ini. Terima kasih untuk segala hal dalam 12 bulan ini...Terima kasih karena CINTA.
16 April '11
Tawang Mangu. Tupiversary's #1 moment.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.











Be my good nymph