satis/fuck/story

story of my fuckin' stories...

satis/fuck/story

Aku ingin menjadi air mata... Lahir dari matamu, hidup di pipimu dan berakhir di bibirmu... Namun jika kau adalah air mata... Aku tak ingin menangis lagi...karena aku tak ingin kehilanganmu...

Cogito ergo sum

"aku berpikir maka aku ada", Descartes

Kita...

Aku tak tahu pasti hari apa waktu itu, hari dimana pertama kali kita bertemu. Saat itu sisi hatiku terasa ada yang menyentuh, hati yang sama yang sebelumnya memfosil karena telah binasa, hati yang sudah mulai membeku karena telah terbengkalai dan tersisih dipelukan malam, terguyur hujantanpa mampu melangkah tuk sekedar berteduh.

Sisi hatiku tersentuh oleh mu, oleh bayangmu. Meretakkan kulit hati yang telah mengering karena luka, meregenerasi sel-sel hati yang kemarin sempat membusuk dan mati.

Malam itu kita berkenalan, melalui seorang kawan. Terima kasih padanya yang membawa kehadiranku ke dalam duniamu waktu itu. Kalau memeang konsep reinkarnasi memang benar adanya, pastilah kita pernah saling mengenal di kehidupan lampau.

Baru dalam hitungan menit waktu yang kita lalui mengusang, aku merasa telah mengenalmu sekian lama.

Aku mengamatimu sedang asyik mengoceh kesana kemari, menatapmu dengan penuh seksama. Seperti seorang kutu buku yang sibuk memperhatikan dosen tanpa mau menyia-nyiakan sedetik waktuku, seperti kurator yang sedang memandangi karya rembrandt, seperti pianis yang sedang belajar simponi-simponi Bethoven. Aku tak mau melepaskan tatapanku darimu...

Namun saat kau melemparkan pandangmu kearahku, aku tak mau kalah gesit dengan mengalihkan pandanganku...Aku menunduk...

Seperti pencuri yang tak mau ketahuan, aku tak mau kau memergokiku sedang mencuri-curi pandang. Seperti sang Surya yang merasa gagah menatap bumi dan tak ada satu detikpun yang sia-sia untuk sekedar menoleh, namun langsung malu-malu menyembunyikan mukanya ke peradua saat malam mulai datang...

Dan detik pertemuan kita mulai terakumulasi, menjadikannya adiktif untuk sekedar menyapa atau melemparkan senyum...


To be continue...

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.
Read More..

Cerita kita


Saat hati ini telah lelah untuk melangkah, Tuhan mempertemukan kita berdua. Aku tahu pasti ada satu alasan di balik suatu kejadian, dan beberapa bulan terakhir aku yakin hal itu juga terjadi saat pertemuan kita.

Masing-masing dari kita terluka parah, boleh dibilang kita adalah veteran pejuang dalam hidup kita masing-masing terdahulu. Kita berdua sama-sama menjadi korban kegetiran roman picisan, masing-masing dari kita merana, sengsara...hati terluka yang dari hari ke hari semakin menganga...

Kita adalah sama, kisah kita mempunyai benang merah yang sama. Kita adalah korban dari perselingkuhan....

Dan dari situ aku pikir kamu mengerti benar betapa sakitnya hati ini, betapa ga nyamannya saat hati kita terlara.

Kita adalah sama...kita adalah korban...

Namun kita tetaplah beda, aku tak mau terpuruk, aku mau segera bangkit dan membuktikan kepadanya yang telah membuatku nestapa bahwa melepasku, menyia-nyiakanku adalah dosa terbesarnya, kesalahan hebatnya dan dia akan menyesali seumur hidupnya. Sedangkan aku tak akan goyah dengan apa yang telah dia lakukan terhadapku, hidupku tak akan terhenti hanya gara-gara dia yang tak lagi pantas untuk diperjuangkan.

Aku bukan pembenci, dan aku bukan pendendam. Namun aku berjuang untuk hidupku...aku berjuang untuk mendapatkan kembali kebahagiaanku yang telah dirampas olehnya.

Namun kita ternyata beda. Kau masih saja terpuruk, kau masih saja melihat dia laksana dewa. Kau tak perlu membencinya untuk bangkit, kau tak perlu memakinya untuk membuktikan kepada dia dan orang lain bahwa kau jauh lebih berharga dari ini, bahwa perlakuannya adalah kesalahannya terbesar seumur hidupnya.

Dan keterpurukanmu membuatmu menyepelekan arti cinta, keterpurukanmu membuat kau bermain-main dengannya. Kau kibaskan sayap-sayap cantikmu dan bersenang-senang diatas kekaguman pengagummu. Kau merasa senang dipuja dan mendengar mantra-mantra sayang dari banyak orang...

Bukan...aku bukan menganggapmu serendah itu, sama sekali tidak sedikitpun terlintas dipikiranku. Bagiku kau tetaplah mahakarya Sang Pencipta atas kecantikan dan sikapmu. Namun seharusnya kau bisa lebih baik dari ini, kau bisa lebih anggun dari sekarang. Kau bisa berjalan layaknya merak yang sombong akan kecantikan dan keindahan bulu-bulunya tanpa kau perlu memamerkannya, tanpa kau perlu mengeluarkan suara-suara magismu.

Kau diam and stay calm, aku yakin kau tetaplah anggun, lebih anggun malah. Kau tak perlu mengumbar kata-kata sayang itu kepada semua orang. Dan biarkan orang yang benar-benar mengagumimu yang mendekat, bukan mendekap karena tergoda akan mantra-mantra magismu.

Aku menyayangimu lebih dari yang kau tahu. Aku bahkan mencintaimu...Jika kau mau melihat dari segala sisi, semua sikap, tindakan dan perlakuanku adalah untuk menjagamu dari kehidupan yang kejam. Aku ga mau orang memanfaatkanmu, aku ga mau orang menganggapmu rendah, meremehkanmu...

Namun kau tak pernah bisa melihatku, kau tak pernah bisa menganggapku. Dan kusadar aku tak lagi bisa bermimpi tentang kita, tentang rumah mungil kita dimana didalamnya ada kau, aku dan buah hati kita. Aku mulai menyadarinya...

Namun jika pun ku harus pergi dari hidupmu, sesuatu yang saat ini sangat berharga buatku, sesuatu yang aku akan rela menggantinya dengan apapun yang aku punya, termasuk hidupku sendiri, aku akan pergi. Namun sebelumnya aku hanya ingin memastikan kau baik-baik aja, aku hanya ingin memastikan seseorang yang mendekapmu sekarang adalah orang yang benar-benar mencintaimu, bukan orang yang hanya semata-mata mencari kenikmatan hidup.

Kau unik, jika tak boleh disebut antik. Karena kau adalah ratuku, dan aku harus memperlakukanmu layaknya seorang ratu. Kita adalah sama, kita adalah satu...seharusnya. Namun aku tak mau memaksakannya untukmu.

Namun kita tetaplah berbeda. Aku bermimpi tentang masa depan kita, tentang satu kesempatan kita akan menjalani hari-hari bersama. Sedangkan kau tak lagi bermimpi tentang itu, sedangkan kau tak lagi sudi membayangkan tentang itu. Kau tak lagi sudi untuk sekedar menemuiku, melemparkan senyum dan keramahanmu kepadaku. Kau tak lagi mau untuk memelukku, mencium aroma tubuhku, menggigit pundakku dan hal-hal kecil namun sering melengkapi hari-hariku.

Kau adalah cinta. Karena aku sangat mencintaimu...

Jika ku tak lagi bisa menemuimu karena kita hidup dalam dua dimensi yang berbeda, aku hanya ingin menjagamu dari kejauhan. Aku hanya akan bisa melihatmu tertawa menertawai hidup, menertawai kebodohan-kebodohan yang kau lakukan. Aku hanya bisa melihatmu have fun dalam menjalani malam-malammu...dengan orang lain.

Dan aku akan binasa, dan aku akan tertatih. Sedikit bahagiaku akan aku sisakan untuk melihatmu bahagia...kau adalah nimfaku tikA...

"untuk tikA yang selalu ingin having fun dengan hidupnya...kelak kau akan mengerti semua hal yang aku bicarakan, kelak kau akan sependapat dengan apa yang aku pernah katakan kepadamu. Namun sejujurnya saat-saat inilah aku ingin kau sependapat denganku tentang sesuatu"




Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.
Read More..

1% Abad

Pertengahan April 2011.

Kesedihan tersirat di wajah kita masing-masing, seolah badai mengerikan telah memporak-porandakan segala bentuk mimpi kita tentang utopia kita bersama. Namun kita telah sepakat untuk tak saling menoleh ke belakang, bencana yang pastinya akan menusuk ketentraman kita. Kau dan aku.

Hari yang kita telah tunggu sekian lama ada didepan mata...

Selain masalah fisik, kita juga harus menyiapkan mental kita untuk memulai perjalanan ini. Satu jam diatas roda adalah satu momen yang telah kita tunggu dengan antusiasnya, dan sekarang semua itu didepan mata. Aku sungguh tak ingin mengacaukannya.

Masing-masing dari kita berharap inilah momentum untuk mencairkan kekakuan sikap diantara kita, satu rasa aneh dan abstrak yang aku akui memang muncul dalam beberapa bulan terakhir ini.

Berbagai badai datang menampar kesadaran kita, hingga mencapai klimaksnya. Aku harap sudah klimaks. Saat-saat terburuk dalam hidup kita yang sangat ingin kita buang jauh-jauh, kita lupakan hingga berharap amnesia.

Perlahan dan pasti kita daki ke puncak. Perjalanan ke timur kita lakukan dengan penuh harap, penyembuh bagi luka yang menganga, penghapus coretan kelam yang tak sengaja kita lukiskan di kanvas perjalanan kita.

Setahun yang lalu kita menantikan saat-saat ini, hampir setahun yang lalu. Seperti yang kita rasa dulu, kita juga akan menanti momen ini lagi setahun ke depan, dan tahun-tahun setelahnya. Kita tak pernah merencanakan kemana kita akan melangkah, kemana kita akan menuju. Tujuan hanyalah sebuah ekstensi. Esensi sebenarnya dari ini semua lebih dari sekedar itu, bukan sekedar tujuan dimana kita singgah atau bagaimana nanti kita menghabiskan hari. Esensi dari semua ini ialah bagaimana kita bersyukur atas jalan yang kita pijak sekarang, bersyukur atas apa yang telah terjadi sampai detik ini atau membuat satu resolusi baru yang akan menguatkan komitmen kita kedepan.

Hawa dingin mulai terasa menjalar rata ke dalam tubuhku, sama seperti kehangatan cintamu yang dulu mampu menjalar ke seluruh sendi tubuhku. Gerimis mulai melengkapi suasana hati dan situasi yang ada. Dan sampailah kita disini...

Hujan semakin menjadi, dan aku masih merasakan rasa abstrak dan aneh yang menyeruak diantara kita. Sekeras apapun usahaku untuk mencairkan suasana, tetap saja rasa itu ada.

Aku pikir dengan aku mandi air hangat akan membantuku. Dan memang itu membantuku untuk melemaskan otot yang rasanya sudah membeku kaku, namun hanya sesaat. Seperti doping bagi seorang atlit, seperti ganja yang dihisap junkies saat ingin mendapatkan kebahagiaan, seperti stimulan yang hanya bekerja sesaat. Ilusi. Tak benar-benar nyata.

Tubuhku justru tak berdaya karena gigil, namun entah kenapa aku juga bisa merasakan gigilnya hatimu kepadaku. Sikap itu tak lagi sama, pandangan itu telah berbeda. Justru sikapmu lebih dingin dari hawa yang kurasa.

Hujan belum juga reda. Kutinggalkanmu dalam lelap. Aku bertekad menyudahi semua ini, rasa aneh yang bagi aku tak ubahnya sebuah alien yang tak nampak. Bagaimananpun caranya, aku harus bisa mengalahkannya. Rasa cintaku kepadamu lebih besar dari rasa apapun, bahkan dari alien terkutuk ini sekalipun.

Saat ini aku belum mampu memberimu sesuatu, sesuatu yang cukup berarti bagimu. Sesuatu hal yang sungguh ingin aku lakukan. Aku terpuruk. Aku jatuh. Aku sungguh tak berdaya. Roda hidupku berada pada titik terendah yang pernah aku lalui. Satu perayaanmu telah kulewati, haruskanh aku melewatkannya lagi kali ini? Aku masih belum mampu memberimu apapun. semua rencana yang pernah aku rancang berbulan-bulan yang lalu sirna sudah, hancur seketika. Semuanya meleset.

Hujan. Dingin. Dan terpeleset jatuh. Sial. Kaki, tangan dan bahkan pantatku kesakitan.

Kembali kubuka pintu, melihatmu masih lelap. Kucoba menarikmu dari alam tidurmu...

Tiga kuntum bunga yang aku petik menjadi pemandangan mengharukan bagi matamu. Aku bisa melihat ada nyala kebahagiaan disana. Aku hanya mampu memberimu ini, bukan apa-apa. Aku sedih. Namun aku cukup bahagia melihatmu sedikit bahagia. Terima kasih telah kita lalui ini.

Wedang ronde ini suatu hal berharga yang datang disaat yang tepat. Hujan tetap saja menunjukkan eksistensinya, malampun seakan bekerja sama untuk membekukan tempat ini. Namun sedikit-demi sedikit hati ini mulai hangat, mulai lega. Alien tadi mungkin hampir binasa.

Melihatmu sibuk dengan pekerjaan sungguh sangat menyenangkan bagiku. Aku tak akan pernah keberatan jika kau habiskan waktu untuk itu. Justru aku akan sedikit lebih kesal jika kau mulai sibuk dan asyik mengetik pesan.

16 April 2011 00.00

Lilin itu menyala...ditemani sekuntum bunga mawar berwarna kuning. Warna kesukaanmu yang aku tahu...besar.

Happy b'day to us...Happy b'day to us...

kau tak kuasa menahannya. Air matamu mulai menetes. Tangis tanpa isakmu. Tangis bahagiamu.

Sungguh inilah salah satu momen terbaik yang harus aku ingat. Mawar kuning, yang sejak tadi sore aku petik, yang aku harus mengucap serapah karena durinya sungguh tak dapat diajak bekerja sama. Mawar kuning, besar. Hanya ini yang mampu aku berikan. Maaf jika memalukan, maaf...

Alien yang sejak tadi menguasai space diantara kita harus mulai berpikir ulang untuk kembali menginvasi kita. Menyerah kalah...

Pagi yang dingin membangunkanku dari lelap, dan kulihat kau pun sudah terjaga. Kabar kau menerima pesan di pagi buta sungguh membuatku ingin tertidur pulas lagi, dalam jangka waktu yang lama.

Mentari sudah mulai mengambil alih jam kerja rembulan, saat yang tepat untuk menikmati pagi yang menyegarkan. Kabut mulai turun, melengkapi dingin pagi yang masih tersisa. Hamparan bukit dan gunung yang mengelilingi tempat ini, seperti tembok yang mengisolasiku dari hiruk pikuk kehidupan. Pelangi yang membentang sungguh merupakan kado terindah dari Tu(h)an bagi kami.

Sekali lagi tangismu kembali meledak, bukan tangis bahagia. Rasa kecewamu terihat benar olehku, dan aku pun bisa merasakannya. Itulah reflek pertamamu atas jalan yang kupilih, spontanitasmu. Namun aku yakin inilah jalan terbaik bagimu. Semuanya demi kesembuhanmu untuk melupakan lupa.

Kau adalah wanita suci bagiku, sampai kapanpun akan selalu begitu. Harga dirimu adalah sesuatu yang harus aku ikut jaga, kau berhak mendapatkan skenario yang lebih baik dari ini semua. Aku tahu pasti itu. Dan seperti biasanya, kau akan mengerti pada akhirnya.

Kelegaan sama-sama kita rasa, seakan-akan tenggorokan kita merasa plong setelah kita menelan permen mint.

Perjalanan pulang ini sungguh terasa berbeda. Lega dan bahagia. Mungkin aku sedikit kecewa kau menunda untuk meneruskan perjalananmu, mungkin waktumu habis untuk berkeluh kesah. Namun kecewaku menguap begitu saja, Cintaku sekarang kembali kuat!

Dan hari ini pada akhirnya akan berakhir. Terima kasih untuk hari ini. Terima kasih untuk segala hal dalam 12 bulan ini...Terima kasih karena CINTA.


16 April '11
Tawang Mangu. Tupiversary's #1 moment.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.
Read More..

Berdiam...

Ruang ini berukuran tak lebih dari 1x2 meter. Namun aku suka disini...

Inilah kamar mandimu. Mungkin aku memang cocok berada di tempat basah seperti ini karena akulah sang Aquarius, entah akupun juga tak tahu pasti. Tapi aku suka disini. Hanya diam. Berdiam tanpa banyak bicara, berdiam tanpa sedikitpun bergeser. Berdiam sejenak, sambil sesekali diselingi isapan ke batang rokok dalam-dalam.

Berdiam...

Ealaupun sebenarnya tak benar-benar diam. Bukan diam sejati. Tubuhku mungkin tak bergerak sejengkalpun, namun pasti isi otak ini terombang-ambing seperti ombak dilautan. Lautan dikamar mandi?

Saat emosi ini mulai memuncak, mata mulai perih dan bendungan air mataku tak kuasa menahannya...hampir roboh. Sesekali aku menghela napas panjang untuk meredam semua kecamuk yang ada di dalam hati, semua amarah. Dan jika itu tak juga berhasil, aku akan melarikan diri...

Disini...

Ruang kecil ini. Dingin, mungkin berguna untuk mengompres suasana hati yang lagi panas...

Aku pastikan aku tak melakukan hal-hal yang lain, jadi tenangkan pikiranmu. Aku tak akan onani. Aku hanya terdiam. Berdiam meredam amarah.

Kamar mandimu ini...biarkan aku disini.
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.
Read More..

Re-connect

Sekali lagi aku ga tau harus memulai dari mana...sekali lagi disinilah tempatku berteriak bebas, menangis keras, tanpa ada jiwa-jiwa yang akan marah, sedih atau frustasi.

Hari ini kau memberiku penawaran, sebuah pilihan yang harus aku pilih. Kita jalani ini semua lagi, atau cukup berhenti sampai disini. Namun tidak cukup sampai disitu, pilihan pertama adalah BERSYARAT. Kita jalani 'kita' lagi asal aku menerima kau dan duniamu.

Ups...tunggu dulu, ini masih belum selesai, masih ada SYARAT lanjutan. Aku ga boleh lagi mempermasalahkan 'jumlah'. Dan sekarang kau bebas untuk menambah berapapun yang kau suka. Tanpa mempertimbangkan apa yang kurasakan.

Tapi memang apa yang aku rasa tidaklah penting, paling ga itu yang bisa aku simpulkan selama ini. Dan tetap saja, aku setiap saat akan berlabel 'egois + tak menghargai kebahagiaanmu' olehmu dan mungkin juga orang-orangmu.

Walaupun aku punya pilihan, tapi yang aku rasa adalah aku tak mempunyainya. Kenapa bisa begitu? Karena 'kita' sangatlah berarti bagiku. Aku rela melakukan apa saja untuk mewujudkan mimpi kita. Bahkan jika langkah ini yang harus aku ambil.

Tak apa bagiku merasa kurang sregm tak apa bagiku jika harus sedikit bersedih, tak apa bagiku jika aku harus mengorbankan sesuatu. Asal aku masih bisa melihatmu, asal masih ada kamu disampingku. Paling enggak untuk saat ini aku masih bisa bertahan dan berusaha untuk bertahan,

Kamu pasti tak akan mau bukan? jika aku mengajukan syarat kau membuang semuanya itu jika ingin kita bersama lagi? Aku tahu itu, maka dari itu aku memelih untuk mengalah kali ini. Karena aku tahu, jika tak ada salah satu dari kita yang mau mengalah, maka 'kita' tinggal kenangan...

Semoga...semoga dan semoga...aku tak tahu lagi apa yang kuharapkan. Aku tak berani lagi untuk berharap.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.
Read More..

Dia yang Dulu

Dahulu, dia sangat mencintaiku.
Dahulu, dia bangga padaku.
Dahulu, aku segalanya baginya.
Namun sekarang aku tak tahu pasti apa yang dia rasakan. Yang aku tahu, sekarang aku bukanlah siapa-siapa...

Sekarang, mungkin aku tak diinginkan. Sekarang, aku harus hidup dengan kegetiran ini.

Namun seperti dirinya, The show must go on, walau aku tahu semuanya ini akan berjalan sangat-sangat lambat bagiku. Seperti dirinya, aku harus lebih banyak tertawa. Karena meskipun semua itu hanyalah topeng belaka, jika kelak aku mulai terbiasa untuk terbahak, maka tak ada alasan lagi untukku tak tertawa lepas.

Seperti dirinya yang mungkin perlahan mulai bisa melupakanku sebagai sesuatu yang pernah menjadi sesuatu, mungkin aku juga harus melakukannya. Namun sejujurnya, aku tak tahu apakah aku sanggup untuk memulainya...melakukannya.

Sebelumnya, aku mungkin telah melakukan banyak hal demi kamu, meski kadang hal itu adalah sesuatu yang tak ingin aku lakukan. Untuk kali ini, mungkin aku akan melakukannya sekali lagi, untuk yang terakhir kali mungkin...sesuatu yang sesungguhnya tak pernah aku ingin lakukan. Aku akan menepi.

Aku akan menepi, menepi dari hiruk pikuk hidupmu. Membiarkanmu mulai berjalan tegak, melihat dan menjagamu dari jauh, hingga mungkin saat kau telah siap aku tak lagi bisa melihatmu. Menepi untuk memberikanmu kesempatan menemukan dan ditemukan oleh kebahagiaan. Menepi untuk membiarkanmu meraihnya...Ketahuilah jika kelak aku harus melakukan semua itu, bukan untuk meninggalkanmu, bukan untuk membuang sosokmu ke dalam kotak yang bernama sejarah.

Sadarkah kau awal dari berpisahnya kita bukan semata karena kita tak lagi sejalan, namun aku merasa telah menjadi penghalang antara kamu dan bahagia kecilmu. Aku tersadarm aku harus pergi agar kau bisa meraihnya, aku sadar aku harus mundur agar kau bisa maju selangkah. Dan untuk itulah aku berada disini, di posisi ini. Dan sekali lagi kukatakan, aku rela menjauh darimu, agar kau bisa meraih semuanya, agar kau bisa merengkuh tiket yang akan membawamu ke dalam nirwana sejatimu, meski untuk itu berarti aku harus mengubur mimpiku bersamamu.

Karena aku mencintaimu.

Aku ingi kau bahagia di luar sana, meski tanpaku.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.
Read More..

R.I.P #16

Aku ga tahu harus memulainya dari mana. Aku akan mencoba menuliskan apa yang selama ini ada di pikiranku, kalo ternyata beda dengan apa yang ada dalam pikiranmu, tolong jangan marah, tapi mohon betulkan.

Aku merasa pertengkaran kita akhir-akhir ini karena masalah 'ular', namun coba kau telaah lebih mendalam. Mungkin kau akan mengerti bahwa ini semua karena salah satu dari kita, atau mungkin kita berdua kurang saling menghargai.

Aku mencoba untuk menghargaimu, aku ga ngelarang kamu untuk memelihara ular, meski dengan berat hati. Aku menganggap itu adalah salah satu bentuk/cara aku menghormati dan menghargai kamu. Aku berharap kau akan melakukan hal yang sama untukku.

Aku sudah katakan aku keberatan dengan hobi barumu, kau tahu itu, tapi aku berusaha untuk tidak melarangmu untuk memeliharanya. Harusnya jika kau menghargaiku balik, kau membatasi koleksi-koleksimu, bukannya menambah.

Satu pertanyaan yang sampai saat ini masih menggangguku. Apa artinya kau menyuruhku untuk mengatakan STOP jika kau ingin menambah koleksimu?? Kau masih ingat itu bukan?

Entah hanya perasaanku saja atau memang itu faktanya, dari sekian banyak orang-orang disekitarmu, mereka akan lebih suka jika kau tanpaku. Itu yang aku rasakan.

Masih banyak yang harusnya aku katakan, tapi aku benar-benar ga mengerti darimana aku harus memulainya.

Selamat tinggal kau yang ada disana...

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.
Read More..

My untold story

"Ntar kalo aku pengen beli lagi tolong bilang STOP ya yank..." Masihkah kau ingat kata-kata itu? Dari apa yang aku lihat sekarang ini, rasanya kau telah melupakannya.

Awalnya kau hanya mempunbyai seekor yang kecil. Aku coba beranikan diri untuk memgangnya, membiasakan diri. Lalu kau membeli lagi seekor yang besar, harusnya kau bisa lihat sikap keberatanku, bukannya kau biasanya tahu perubahan sikapku walau sekecil apapun?

Lalu sampai akhirnya yang kau punya tinggal seekor, kau menyisakan yang besar. Tapi tak apalah, aku sedikit senang dengan kondisi ini. Lalu tiba-tiba kini kau mempunyai tiga ekor?!? What's in your mind??

Kau tahu satu aja aku setengah mati berusaha untuk beradaptasi denganmu, tapi kini 3?? Kini coba pikir baik-baik siapa yang egois???

Saat aku mencoba melarangmu, kamu dan orang-orang disekitarmu menuduhku tak membiarkanmu bahagia. Oke aku mengalah...tapi kini 3???

Aku benar-benar tak tahu lagi harus berkata apa ke kamu. Tapi sudah janjiku kepada diriku sendiri untuk tak membiarakan kerikil ada dijalan kita ke depan. Jadi apapun konsekuensinya, walaupun itu mengorbankan hatiku, aku tak akan membiarkan kita bertengkar lagi. Karena akucinta kepadamu, kalau kamu sadar akan hal itu.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.
Read More..

Dilema

Aku benar-benar tak tahu harus berkata apa, harus bersikap apa. Kalo aku bersuara, kau pasti akan segera menganggapku tak ingin kau bahagia. Saat ini hanya itu yang membuatmu bahagia, dan sungguh harus kuakui kebahagiaanmu saat ini berarti kesedihanmu. Hal yang membuatmu bahagia justru pada saat yang sama membuatku bersedih.

Namun aku tak akan membiarkan diriku merusak bahagiamu. Mungkin sekarang ini belum saatnya kau bersikap dewasa dan tak egois. Untuk itulah aku disini, aku yang akan melakukannya untukmu, untuk tak egois. Akan kusembunyikan kesedihanku demi melihat bahagiamu. Biarlah tangisku pecah saat kesendirian sedang kumiliki.

Entah aku juga tak tahu darimana datangnya, namun aku yakin suatu saat kau akan mengerti ini semua, suatu saat kau akan kembali normal seperti dulu, saat tak ada sesuatu yang memisahkan kita berdua.

Aku rela kehilangan tawaku sekarang, demi menunggu bahagia kita. Aku hanya tak ingin kau terlambat menyadari itu semua, aku hanya tak ingin kau menyesali sesuatu.

Aku sadar saat ini aku bukan lagi seseorang yang dapat kau banggakan, seperti dulu kau biasa bilang ke aku. Aku hanya ingin mendukung setiap langkahmu, meski hal itu justru membinasakanku pelan-pelan.

Memang tak ada lagi tawa bagiku akhir-akhir ini, tapi sekali lagi aku rela untuk kehilangan itu, asal kau merasa senang dengan apa yang kau miliki sekarang ini.

Dan semoga aku masih bisa seperti ini sampai kapanpun, sampai apa yang kuharapkan benar-benar terjadi, sampai kau menjadi normal kembali. Seperti dulu, seperti waktu kita dulu...

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.
Read More..

Hak Cemburu (weh!!)

Cemburu...masihkah aku pantas untuk cemburu? Masihkah aku berhak untuk cemburu? Apakah hanya karena aku mencintainya, aku menyayanginya....menjadikanku pantas untuk cemburu?

Cemburu...

Tapi pada siapakah aku seharusnya cemburu? pada mereka?? tapi aku percaya dia...dan mereka bukan siapa-siapa dia!!! Itu yang selama ini dia coba tunjukkan kepadaku...mereka bukanlah siapa-siapa dia! Dan aku harus percaya.

Tapi bukankah hati tak bisa dicuekin begitu saja? Aku percaya, selalu percaya. Tapi kenapa hati ini selalu bertanya-tanya???

Dalam situasi yang bergulir begitu cepat, kondisi berbalik tanpa disangka. Masihkah hak ku untuk cemburu itu ada??

Ah kusudahi saja tulisan ini, enggak penting...malah bikin semua jadi makin runyam. Lebih baik jika ku pandangi dia sekarang...melihatnya sibuk dengan tugas-tugasnya.


re-post from some blog. my very own blog.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.
Read More..

Surat yang tak akan pernah kau baca


Dear nimfa,


Aku ingin menulis surat ini, surat yang tak akan pernah sampai kepadamu, yang mungkin tak akan pernah kau baca. Aku hanya akan mengatakan kejujuran padamu, dan mungkin ini yang aku coba ingin katakan kepadamu selama ini.

Soal kau dan duniamu, aku tak akan pernah mengganggunya. Aku juga tak pernah membenci siapapun atau apapun yang selama ini ada dalam duniamu, selama ini kau nyaman dengan itu. Namun dengan segala hormatku kepadamu, aku sungguh tak akan mau masuk ke dalamnya. Biarlah ruang dan waktu itu kau miliki sendiri, dan buat dirimu nyaman tanpaku disana.

Namun aku juga masih sangat yakin dengan apa yang aku yakini, dan sedikit banyak aku tahu bagaimana kau berpikir. Aku akan disini, diluar pintumu untuk menanti jika sewaktu-waktu kau terlalu penat barada dalam ruang kecilmu, jika sewaktu-waktu kembali teringat akanku ditengah keasyikanmu, jika suatu saat 'kau' telah kembali lagi. Namun sekali lagi aku hanya akan tetap disini, di luar pagar itu. Pagar yang untuk sementara memisahkan kita dalam dunia yang aku tak bisa masuki.

Saat kau masuk kedalamnya, sedikitpun aku tak akan mengganggumu, tak akan merengek kepadamu. Karena kau sudah dewasa bagiku, kau sudah tahu batasan dan aturan tak tertulis yang ada...mungkin. yah semoga saja kau selalu tahu.

Ingatlah wahai cintaku, sampai kapanpun dimataku kau adalah seorang nimfa, walau kenyataannya kau lebih seperti medusa. Dan aku mohon tetaplah menjadi nimfa untukku.

Maaf jika ada rasa menyeruak keluar yang biasa aku sebut 'feeling' ini mengganggu kenyamananmu dengan mereka, semoga ini untuk pertama kalinya hal itu salah...aku selalu membayangkan kau akan mengatakan "...kapan sih yank feelingmu salah ke aku??...." Dan kali ini aku benar-benar tak mengharapkannya.

Namun semua itu bukan aku yang ngatur, benar-benar diluar jangkauanku. Aku tak pernah mengharapkan atau mengundah semua itu datang kepadaku, semuanya datang begitu saja seperti hujan yang tiba-tiba membasahi gaia hingga kuyup. Ingin rasanya aku berlari sembunyi dari hal itu dan membantah apa yang aku rasa, tapi semakin kuat aku mencoba, semakin aku susah untuk bernafas.

Dan aku telah berjanji baik kepadamu atau kepada diriku sendiri, aku akan mematikan, membuang dan mengubur hatiku yang mengurusi rasa cemburu, sakit hati dan sebangsanya. Namun aku tetaplah manusia biasa, yang tak mungkin tak merasakan itu. Aku akan tetap merasakan cemburu, tapi hanya akan aku rasakan, kau tak perlu melihatku menangis lagi, bersedih lagi. Kau hanya perlu melihatku tertawa bukan? Kau hanya ingin melihatku bahagia bukan? Aku akan bahagia untukmu, Aku akan tersenyum saat melihatmu bahagia, walaupun hal itu akan membunuhku perlahan.

Entah apa yang aku inginkan akan terwujud dalam waktu dekat atau enggak, aku pun tak tahu. Namun jika memang aku bisa meraih apa yang aku ingin raih, maka aku sangat menyayangkan kualitas hubungan kita tak seperti dulu lagi.

Aku tahu mungkin kau akan menyesal telah menyia-nyiakan waktu kita hanya untuk...entah lah aku tak mau tahu. Aku sempat bermimpi saat kamarmu sudah penuh dengan ular, dan kau makin mendekati sosok medusa, ular mu menggigitku, tapi seketika aku terbangun dari tidurku. Aku benar-benar ingin tahu kelanjutan dari mimpi itu, aku ingin tahu bagaimana sikapmu...tapi aku terlalu takut untuk menanyakannya kepadamu. Bukankah sekarang aku mempunyai cap sebagai cowok pencemburu yang membabi buta di jidatku?

Masih banyak hal-hal yang kadang ingin aku tanyakan, share atau sekedar bercerita kepadamu tanpa aku takut untuk mengatakannya, baik takut hal itu akan membangkitkan amarahmu, tangismu, sedihmu, atau takut kau akan melabeliku menjadi seseorang yang tak aku inginkan. Aku sangat ingin kita bisa mengobrol dengan nyaman, tanpa ada amarah. Aku butuh seorang yang bisa mengerti dengan jelas apa yang aku ingin coba sampaikan. tapi sebenarnya aku butuh kamu, kamu yang sebenarnya...

NB.
Mungkin ini hal yang tak penting ya...tapi coba kau renungi baik-baik. Apakah kau punya foto-fotoku dalam entah di manapun itu. Social Network-mu mungkin? Laptopmu mungkin? Banyak kok hal-hal seperti itu, aku bukannya menuntu aku menjadi prioritasmu, sekali lagi bukan. tapi semua ada porsinya masing-masing kok.



Dengan cinta,



imperfect man


Sebuah surat yang dikutip dari sebuah sumber | (c) 2011 a SatisFUCKstory.










Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.
Read More..
 
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified